TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mengutip laporan hasil penelitiannya, ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, menyatakan, peluang Indonesia tampil menjadi negara berpendapatan tinggi sangat kecil di masa datang.
Bahkan menurutnya, peluang tersebut hanya sekitar 3 persen.
Adapun peluang Indonesia untuk terperangkap dalam pendapatan rendah sangat besar, yakni mencapai 80 persen.
Dalam sebuah studinya bertajuk 'Mengelak dari Jebakan Penghasilan Menengah di Indonesia: Analisa Risiko, Pemecahan Masalah dan Karakteristik Nasional', Faisal menjelaskan. peluang Indonesia untuk menjadi negara pendapatan menengah hanya 16 persen.
"Kinerja ekonomi Indonesia juga sangat sensitif terhadap krisis yang bersifat eksternal dan memerlukan waktu yang lama untuk kembali pulih. Padahal perekonomian Indonesia dibandingkan tahun 1960 relatif semakin agak tertutup perekonomiannya jika diukur dari peran ekspor barang terhadap Produk Domestik Bruto secara Paritas Daya Beli," kata Faisal Basri dalam diskusi di Unika Atma Jaya, Senin (18/4/2016).
Faisal menyebut, struktur ekspor Indonesia saat ini masih belum memperlihatkan perbaikan dalam meningkatkan peran dari ekspor berbasis teknologi tinggi. Nilai kontribusinya dalam ekspor juga sangat rendah dan semakin menurun.
Adapun kinerja sektor manufaktur juga lemah. Sementara itu, sumber daya manusia Indonesia amat lemah terutama dalam kualitas.
Lemahnya kemampuan kognitif pelajar Indonesia harus segera diperbaiki agar transformasi perekonomian Indonesia mampu bergerak mulus dari ketergantungan kepada industri berbasis upah murah menuju basis produksi dengan keahlian lebih tinggi.
"Untuk menghindar dari perangkap pendapatan rendah dan menengah, solusinya hanya melalui penguatan sektor industri. Untuk itu, peran kepemimpinan nasional dalam hal ini Presiden sangat vital dan sangat menentukan. Nawacita harus digunakan untuk menyukseskan kebijakan industri," jelas Faisal.
Penulis: Sakina Rakhma Diah Setiawan
SUMBER :
108Jakarta.com - Bisa dikatakan, remaja putri yang memiliki nama Chloe Purnama merupakan salah satu wanita Indonesia yang sukses membangun bisnis online shop. Hebatnya, Chole memiliki tujuan mulia dari hasil bisnis online shopnya agar ia bisa menolong orang-orang yang tak beruntung. Berbisnis sambil beramal begitulah istilah yang tampaknya cocok disematkan pada remaja putri ini.
Chole menikmati masa kanak-kanak yang menyenangkan dalam sebuah keluarga yang hangat. Tetapi, kepergian Clida, salah satu adik kembarnya, akibat kanker ganas di otak sempat mengguncangkan keluarganya. Rasa kehilangan itu akhirnya terobati dengan semangat kebangkitan melalui kegiatan kemanusiaan.
Persentuhan dengan orang-orang sengsara mengalirkan makna yang dalam terhadap Chloe dan keluarganya. Aktivitas ini melahirkan sebuah semangat indah di dalam diri Chloe yang ingin menolong orang-orang yang tak beruntung dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.
Chloe kemudian memulai berbisnis online shop! Bisnis yang ia kira akan berjalan kecil-kecilan ternyata mampu menghasilkan omzet sampai ratusan juta rupiah hanya dalam dua tahun setelah ia memulainya. Dengan nalar murninya sebagai kanak-kanak, Chloe mampu menjalankan bisnis toko online dengan lincah, tanpa modal, terkelola rapi, penuh ide kreatif, dan tidak mengganggu sekolahnya.
Ya, pengalaman Chloe membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk sukses di bisnis online atau kegiatan kreatif yang lain. Bahkan buku inspiratif berjudul 'Chloe: Sukses Berbisnis Online Shop' yang telah diterbitkannya diharapakan mampu memberikan semangat dan menemukan makna yang lebih indah di dalam hidup Ini.
sumber :
- See more at: http://www.108jakarta.com/lifestyle/2015/03/15/52223/Chloe-Purnama-Bangun-Bisnis-Online-Shop-Untuk-Amal#sthash.540ae2ek.dpuf
Wiji Nurhayat - detikfinance
Kamis, 02/04/2015 11:22 WIB
323 ABK WN Myanmar, Laos dan Kamboja di PT. PBR Benjina tiba di PPN Tual, Sabtu (04/04/2015) dengan menggunakan 6 kapal Antasena milik PT. PBR dan di kawal oleh KRI Pulau Rengat dan Kapal Pengawas Hiu Macan 004 milik PSDKP, sambil menunggu proses pemulangan oleh pihak Ke Imigrasian. Foto : KKP
Jakarta -Kasus perbudakan yang melibatkan PT Pusaka Benjina Resources (PBR) di Benjina, Kepulauan Aru, Maluku mengundang perhatian internasional. Perusahaan Indonesia yang berafiliasi dengan perusahaan Thailand itu memang memiliki banyak kapal tangkap ikan.
Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dikutip detikFinance, Kamis (2/04/2015), PBR setidaknya memiliki 28 kapal tangkap ikan. Semua kapal tangkap ikan itu beroperasi di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 718, atau tepatnya di Laut Aru, Selatan Papua.
Seluruh kapal tangkap yang dimiliki PBR bernama ANTASENA, dan berasal dari Thailand atau disebut kapal ikan asing (KIA). Semua kapal milik PBR secara sah telah mendapatkan dokumen yang diterbitkan KKP, yaitu Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI). Adapun masa berlaku SIPI yaitu dari 6 Januari 2015 hingga 25 November 2015.
Adapun 28 kapal tangkap itu adalah, ANTASENA 102, 103, 105, 106, 109, 112, 113, 116, 117, 118, 119, 120, 121, 122, 123, 125, 126, 127, 128, 131, 135, 136, 137, 128, 141, 142, 143, dan 612. Rata-rata kapasitas dari seluruh kapal ANTASENA juga cukup besar, yaitu 200-560 Gross Ton (GT). Bahan dasar pembuat kapal ANTASENA yaitu didominasi kayu.
Namun bila melihat lebih dalam, seluruh kapal ANTASENA milik PBR menggunakan alat tangkap pukat ikan. Penggunaan alat tangkap jenis ini telah dilarang dan sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No. 2/2015.
sumber :
Selasa, 11 November 2014 | 17:03 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti, bertemu dengan para nelayan, rekanannya dulu saat menjadi pengepul ikan di TPI Pangandaran, Sabtu (1/11/2014).
JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah menjadi kebanggaan jika Indonesia, negara dengan penduduk terbanyak di kawasan Asia Tenggara, dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil, masuk dalam jajaran negara-negara G-20.
Namun, pandangan berbeda dilontarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Menurut Susi, tidak ada untungnya Indonesia menjadi bagian dari G-20. Susi melihat, justru Indonesia kehilangan pendapatan 14 persen dari total impor tuna yang mencapai 700 juta dollar AS per tahun.
"Karena gengsi itu (menjadi bagian dari G-20) kita kehilangan 14 persen dari tuna, dari 700 juta dollar AS. Belum lagi dari komoditas lain, yakni udang. Nilainya jutaan dollar AS," kata dia, Selasa (11/11/2014).
Atas dasar itu, dia ingin agar Indonesia bisa keluar dari G-20. "Saya minta kepada Dirjen PPHP untuk menyurati Pak Presiden, atau ke Perdagangan, atau Sekneg, atau siapa, saya tidak paham birokrasinya. Apa keuntungan kita dari G-20 untuk perikanan?" ujar Susi.
Susi menuturkan, setiap orang adalah pedagang. Dia menegaskan, lobi diplomatik bukanlah urusannya. Yang dia inginkan adalah lobi perdagangan. Sebab, dia ingin agar Indonesia mendapatkan untung lebih banyak. Dengan demikian, tujuan dari Presiden Joko Widodo tercapai, yakni menjadi tuan rumah dan berdaulat di negeri sendiri.
"Enggak perlu sombong tapi duit ilang, betul enggak? What? Kita di G-20 juga enggak bisa kasih keputusan, karena kita bukan G-8. Yang bikin policy G-8, kita hanya pengikut penggembira," ucap Susi.