Tampilkan postingan dengan label JOKOWI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JOKOWI. Tampilkan semua postingan

Amien Rais Puji Pidato Jokowi dalam Forum APEC

 

Selasa, 11 November 2014 | 23:03 WIB

KOMPAS/ANDRI, AP PHOTO/ANDY WONG
Respons kepala negara asing terhadap Presiden Joko Widodo dan Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais memuji pidato Presiden Joko Widodo pada forum APEC CEO Summit di Beijing, Senin (10/11/2014). Meski mengaku tak melihat keseluruhan pidato Jokowi, Amien menilai, pidato yang disampaikan Jokowi cukup bagus.
"Saya tidak melihat semuanya, tetapi saya sempat beberapa menit melihat. Menurut saya cukup bagus," kata Amien, seusai acara deklarasi dan pengukuhan kepengurusan Koalisi Merah Putih DKI Jakarta, di Hotel Gran Melia, Jakarta, Selasa (11/11/2014). 




Maju terusss Presidenku, biar pake Javanese - English pokoknye oke.....Understandable......Memangnye jadi presiden musti kuliah dulu di Amrik. Yang penting bisa memimpin, rakyat sejahtera sandang, pangan, papan (rusunawa).

 
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Ketua Majelis Pertimbangan Partai Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasinal Amien Rais menyampaikan pidato dalam acara pengukuhan pengurus Dewan Pimpinan Daerah PAN Jakarta Utara, Sabtu (28/12/2013). Dalam pidatonya Amien menegaskan kembali semangat kader PAN yang akan memenangkan pemilu 2014, dan menjadikan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa sebagai Presiden RI.

Amien berharap, apa yang disampaikan oleh Jokowi bisa segera direalisasikan. Terlebih lagi, pidato Jokowi mendapatkan sambutan positif dari para delegasi yang hadir.
"Sambutan dari para delegasi juga bagus. Sekarang tinggal bagaimana follow-up-nya," ujar mantan Ketua MPR itu.
Seperti dikutip dari harian Kompas, Jokowi memanfaatkan forum APEC CEO Summit di Beijing untuk menawarkan peluang investasi pembangunan infrastruktur yang terkait konektivitas di Tanah Air. Sekitar 500 pemimpin perusahaan terkemuka dari 21 negara di Asia Pasifik tampak antusias dengan paparan Jokowi. 




Presiden Filipina Benigno Aquino III

Dalam forum itu, Jokowi tidak berpidato dengan teks, tetapi menyampaikan presentasi dalam bahasa Inggris dan memanfaatkan slide layar lebar. Di situ, ia menampilkan grafis peta Indonesia serta data statistik sebagai penunjang. Itu paparan perdana Jokowi dalam forum internasional sebagai Presiden.
Mengawali presentasinya, Jokowi memberikan gambaran tentang Indonesia yang memiliki 17.000 pulau dengan populasi penduduk sekitar 240 juta jiwa. Selanjutnya, ia menjelaskan agenda pembangunan di Indonesia ke depan yang fokus pada konektivitas maritim, pembangunan 24 pelabuhan, dan transportasi massal kereta api, serta pembangkit listrik 35.000 MW.
Jokowi menggambarkan bagaimana konektivitas antarpulau belum terbangun dengan baik sehingga ada kesenjangan harga komoditas barang antara pulau yang satu dan yang lain. Ia mencontohkan harga semen di Papua yang bisa mencapai 25 kali lipat dari harga di Pulau Jawa.
Selain memaparkan peluang yang ada, Jokowi jujur mengungkapkan adanya sejumlah masalah yang menghambat pembangunan di Indonesia, mulai dari birokrasi perizinan, pembebasan lahan, hingga ketersediaan listrik. Namun, ia juga berusaha meyakinkan kalangan usaha di Asia Pasifik bahwa persoalan-persoalan itu akan menjadi fokus pembenahan dari pemerintahannya.
Mengakhiri presentasinya, Jokowi mengundang kalangan usaha pada forum APEC untuk berinvestasi dalam pembangunan di Indonesia.
"Kami menantikan Anda untuk datang ke Indonesia dan berinvestasi di Indonesia," ujar mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

 



Pidato Obama

Menteri-menteri Ini Salah Tempat?

 

Senin, 27 Oktober 2014 | 08:14 WIB


TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berfoto bersama dengan calon menteri di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Senin (26/10/2014). Hari ini Presiden Joko Widodo mengumumkan nama-nama calon menteri untuk mengisi Kabinetnya yang diberi nama Kabinet Kerja. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

JAKARTA, KOMPAS.com – Sejumlah menteri dalam Kabinet Kerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dinilai bukan orang yang tepat untuk pos kementeriannya. Sebagian di antara mereka adalah jajaran menteri terkait perekonomian.
“Rahmat Gobel ini kan kapabilitas beliau selama ini banyak di industri, walaupun ada kekhawatiran kalau di Kemenperin terjadi conflict of interest, tapi kalau di Kemendag tidak menonjol kapasitasnya," ujar Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, Minggu (26/10/2014).
Menurut Enny, susunan Kabinet Kerja ini tak mencerminkan ujaran "Right man on the right place". (Baca juga:
Sejumlah Kementerian Salah Menteri?). Namun, dia berharap Rahmat dapat mencegah defisit neraca perdagangan selama dia mengemban amanat sebagai Menteri Perdagangan.
Selain Rahmat, Enny juga mencermati penunjukan Saleh Husein untuk posisi Menteri Perindustrian. “Pengalaman beliau di perindustrian terus terang saya tidak banyak informasi. Yang pasti, publik bertanya-tanya beliau ini siapa?” lanjut dia.




Enny juga menilai lebih tepat jika M Nasir, yang didaulat Joko Widodo menjadi Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, menjabat di pos yang berkaitan dengan anggaran. “Pak Nasir, beliau ini dosen saya. Selama ini dikenal cukup piawai dalam hal anggaran, tapi malah jadi Menristek,” sambung Enny.
Selain nama-nama itu, figur seperti Ignatius Jonan, Siti Nurbaja, serta Andrinof Chaniago juga dinilai salah tempat. Khusus untuk Jonan, Enny sepakat bahwa Jonan telah berhasil melakukan revolusi perkeretaapian. Namun, Jonan juga dinilai pantas menduduki pos sesuai dengan latar belakang pendidikannya, yang berkaitan dengan finance.
“Tidak hanya satu-dua yang ketuker. Tapi mungkin ini strategi (Pak Jokowi), saya enggak tahu juga. Yang pasti, tidak tampak memenuhi ekspektasi publik," kata Enny. "Kebetulan tim ekonomi Kabinet Kerja ini kan yang mendapat harapan terlalu besar. Sebenarnya tidak terlalu jelek juga (strukturnya). Tetapi karena ekspektasinya terlalu tinggi, dan kenyataannya hanya seperti itu, ya jadi kurang.”

Fadli Zon: Jokowi Langsung Kerja, Jangan Pesta!

 

Senin, 20 Oktober 2014 | 17:14 WIB

TRIBUNNEWS/HERUDIN Mantan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) meninggalkan balaikota, usai menggelar acara perpisahan dengan pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jumat (17/10/2014). Dalam acara itu, Jokowi menyalami seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov DKI Jakarta.

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengaku turut gembira dengan dilantiknya Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2014-2019. Namun, dia menyayangkan niat Jokowi-JK yang menggelar pesta seusai pelantikan.

Fadli meminta Jokowi-JK langsung bekerja dan tak perlu ikut serta dalam pesta yang sudah disiapkan oleh rakyat.

"Sekarang langsung kerja saja, jangan pesta. Kerjaan banyak," kata Fadli seusai pelantikan Jokowi-JK di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2014).

Menurut Fadli, Jokowi banyak menyampaikan janji-janji saat kampanye pada Pemilu Presiden 2014 lalu. Bahkan, saat menyampaikan pidato perdana saat dilantik, menurut dia, Jokowi kembali menggelontorkan janji-janji.

"Mulailah Jokowi merealisasikan janji-janjinya itu. Banyak banget janjinya. Banyak sekali catatannya. Pertumbuhan ekonomi mau di atas 7 persen, mau membagikan uang Rp 1 juta untuk rakyat miskin, mau membangun lahan pertanian. Nanti saya buatin bukunya," ujar Wakil Ketua DPR itu.

Dinilai Jadi Sengkuni, Amien Rais "Diruwat" Warga Yogya

 

Kamis, 16 Oktober 2014 | 13:23 WIB
KOMPAS.com/Wijaya Kusuma Rombongan Pemetri saat menggelar ruwatan di depan rumah tokoh PAN Amien Rais, Kamis (15/10/2014
YOGYAKARTA,KOMPAS.com — Paguyuban Masyarakat Tradisi (Pametri) Yogyakarta mendatangi rumah tokoh Partai Amanat Nasional, Amien Rais, di Sawit Sari Condongcatur, Sleman, Yogyakarta, Kamis (16/10/2014). Rombongan ini datang untuk menggelar ruwatan untuk Amien dan para wakil rakyat yang dinilai bersikap sebagai "Sengkuni", yaitu tokoh yang dikenal licik dan penghasut di dunia wayang.
Sunanda, koordinator aksi, mengatakan bahwa mereka sengaja menggelar acara ini karena menurut penilaian mereka, sebagai negarawan, sikap Amien Rais dinilai sudah melenceng dan telah mengingkari semangat reformasi.
"Jadi, kami ke sini untuk 'meruwat' Pak Amien Rais agar kembali bersih," ujarnya.
Pada pukul 11.15 WIB, rombongan Pametri dengan mengenakan pakaian adat Jawa dan membawa sesaji seperti pisang setangkep, bunga setaman, kurungan manuk (sangkar burung), dan dupa mulai berjalan menuju rumah Amien. Sesampainya di depan rumah mantan Ketua MPR RI tersebut, para anggota Pametri lantas duduk bersila. 


Berita Terkait:

 Koordinator Aksi Ruwatan terhadap Amien Rais Dilaporkan ke Polisi

Mbah Sukir sebagai sesepuh pun mulai memanjatkan doa-doa dengan bahasa Jawa yang intinya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bangsa Indonesia terhindar dari bencana dan orang-orang yang ingin merusak bangsa.
"Semoga Bapak Amien Rais lepas dari Sandikolo dan kembali bersih. Semoga bangsa ini terhindar dari bencana dan segala hal yang tidak baik. Semoga rakyat Indonesia bisa sejahtera," ucapnya.
Seusai mengucap doa, Mbah Sukir lantas mengambil pitik cemani atau ayam hitam, lalu dengan menggunakan gunting ia memotong sedikit bulunya. Setelah itu, ayam hitam tersebut dimasukkan ke dalam kurungan.
"Pemotongan bulu ayam cemani ini sebagai lambang melepaskan Sandikolo dari Pak Amien Rais," ujarnya.
Setelah itu, Mbah Sukir mengambil ayam berbulu putih lalu mengangkatnya sambil berteriak.
"Ini ayam putih melambangkan kebersihan kesucian. Semoga Bapak Amien Rais kembali bersih dan menjadi negarawan yang baik," ujarnya.
Pada adat Jawa, ruwatan adalah salah satu upacara agar orang terbebas dari segala macam kesialan dan bersih dari segala sifat jahat. Upacara ini sudah ada sejak nenek moyang dan masih terus dilestarikan sampai saat ini.
Ruwatan di depan pagar rumah berwarna biru tersebut digelar selama 30 menit. Setelah itu, rombongan paguyuban meninggalkan rumah Amien Rais menuju Tugu Yogyakarta. Di sana, mereka akan menggelar acara wayangan sederh
ana.

Dari Tempat Kecil Ini, Pakaian Pelantikan Presiden Jokowi Dibuat

feng sin tailor

 
Sabtu, 11 Oktober 2014 | 18:07 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Di pojok jalan satu arah itu terdapat sebuah bangunan kecil berwarna coklat terang, persis di sebelah lampu merah. Tak ada pelataran luas dan cukup bahkan hanya untuk memarkir satu unit mobil. Dua tiga motor tampak terparkir di pinggir trotoar di depan bangunan tersebut. Di atas bangunan tersebut terdapat huruf-huruf berwarna merah dan hitam yang bertuliskan "Feng Sin Tailor".
Mungkin masih segar dalam ingatan pakaian putih yang dikenakan presiden terpilih Joko Widodo saat dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta dua tahun yang lalu. Setelan baju dan jas itu dijahit oleh para penjahit di toko kecil tersebut. Dan untuk pelantikannya menjadi Presiden RI 22 Oktober mendatang, Jokowi kembali memakai jasa toko yang berada di Jalan Gunung Sahari V, Jakarta Pusat itu. 



http://us.images.detik.com/customthumb/2014/10/14/10/172021_kemejajokowi3.jpg?w=460 

Sebenarnya apa yang membuat tempat tersebut begitu digemari Jokowi?
"Iya, bapak Jokowi memang sering memesan pakaian di sini," aku Rusman, pemilik Feng Sin Tailor kepada Kompas.com, saat ditemui di tokonya, Jumat (10/10/2014).
Ia menjelaskan, bukan hanya pakaian untuk pelantikan saja, tetapi juga pakaian sehari-hari, seperti baju batik atau kemeja putih, Jokowi kerap menjahitkannya di toko yang sudah berdiri sejak tahun 1939 itu.
Namun, jika ditanya alasannya, pria yang sudah aktif menjahit sejak tahun 70-an itu juga bingung menjawabnya. "He-he-he, saya juga enggak tahu, dari awal pak Jokowi minta untuk dijahitkan baju pelantikan gubernur waktu itu, beliau panggil saya terus," kata dia.
Untuk baju yang akan dipakai Jokowi pada pelantikannya menjadi Presiden RI pada 20 Oktober 2014, Rusman menolak menyebutkan harga pastinya. Namun, ia menyebutkan, pakaian yang dipesan untuk pelantikan adalah jas. "Sekitar jutaan-lah kalau jas, bahannya mahal," kata dia.


Baca juga:

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi

Ini Cerita Rusman, Penjahit Pakaian Langganan Jokowi

Ongkos Jahit Baju Deklarasi SBY Rp 300 Ribu

Bagaimana Selera Berbusana SBY? Ini Penuturan Penjahit Langganannya











Suparto, Penjahit Langganan Jokowi

Niken Satyawati
www.kompasiana.com/nikensatyawat

REP | 16 September 2014 | 11:43 Dibaca: 1131 Komentar: 20 24
14108396581201783480
Suparto dan Jokowi. #foto dari Facebook Suparto
Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) identik dengan kemeja lengan panjang putih dipadu celana panjang hitam. Kendati demikian dia tetap tak jarang mengenakan hem batik atau stelan jas karena tuntutan kedinasan. Kebiasaan Jokowi mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung seperdelapan, saya lihat sudah dilakukan sejak dia menjadi walikota periode pertama.
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCSpplznrp-wAloESNrl5bdNt01ukjUSlx6klQNM-Sqv9wBFc_K3dQKY-UE5sxYlyt3EwktST3dUDO0FS-LnMNBKpNleop-RnOKab25LrnI0GdNxZxnHrRsyek2oaYEQk4L1OElMZbQYo/s1600/2013-07-04_174232.jpg



Di berbagai kesempatan semi formal seperti menonton pertunjukan kesenian, dia suka mengenakan kemeja putih. bahkan saat acara tarawih keliling, ketika pria lain mengenakan baju koko dengan kerah shanghai, Jokowi pilih mengenakan kemeja kasual putihnya. Hanya saja celana hitam diganti dengan sarung.
Siapa sih yang penjahit yang dipercaya Jokowi untuk menjahit pakaiannya? Bukan penjahit mahal nan elite. Dia adalah penjahit biasa saja bernama Suparto, penjahit yang membuka kios mungil bernama Arjuna Tailor, terletak di bantaran Kali Anyar, sebelah utara Terminal Tirtonadi Solo. Suparto sudah belasan tahun menerima order jahitan untuk Jokowi.
Suparto membuka usaha jahit-menjahit 34 tahun silam, tepatnya tahun 1980. Waktu itu usianya 20 tahun. Selain mengerjakan jahitan berupa kemeja, dia juga dikenal sebagai penjahit setelan jas pria. Dari waktu ke waktu usahanya berkembangan. Kini Arjuna Tailor makin sering mendapat order jahitan untuk korporat. Saat Jokowi kampanye Pilgub dan Pilpres, Arjuna Tailor menjahit dan memasarkan baju kotak-kotak khas yang dikenakan Jokowi.
14108420191698242237
Suparto mengukur baju presiden terpilih. #foto dari Facebook Suparto
Awal September 2014, Jokowi pulang kampung di Solo. Selain menonton pentas Solo International Performing Arts (SIPA), dia juga menyempatkan diri mengunjungi Arjuna Tailor, untuk menjahitkan baju. “Pak Jokowi minta dijahitkan 10 kemeja putih dan 10 celana hitam,” kata Suparto.

Namun kali ini nuansanya sangat berbeda. Jokowi datang tak hanya diiringi beberapa orang yang biasanya memang mendampingi, tapi juga ditambah Paspampres. Kios mungil Suparto jadi ramai karena didatangi orang yang akan menjadi sosok nomor satu di Indonesia.
Suparto menyatakan keharuannya dikunjungi Jokowi. “Beliau itu sejak dulu orang yang sederhana dan selalu ingat rakyat kecil. Terbukti masih mau tilik (pulang) ke kampungnya di mana  dulu dia pernah tinggal, walau kampungnya padat penghuninya,” ujar Suparto. Jokowi dan keluarganya dulu memang pernah bertempat tinggal di bantaran Kali Anyar, dekat kios yang ditempati Arjuna Tailor.
Harapan sederhana pun diungkapkan ayah tiga jejaka ini terhadap Jokowi yang segera memimpin negeri ini. “Semoga beliau selalu dikaruniai keesehatan. Semoga beliau amanah, dan segera menjalankan tugas serta mewujudkan apa yang di kampanyekan,” tutur Suparto.

1410842486556969256
Suparto dan keluarga, dengan baju kotak-kotak.
                                                                                                                       
Kini bisnis Suparto tak hanya berkutat pada usaha jahit-menjahit. Dia melakukan diversivikasi usaha dengan mengemas dan menjual berbagai makanan oleh-oleh khas Solo. Dia pun membuka kios kecil untuk oleh-oleh ini, mepet dengan kios jahitannya.
Jiwa bisnis diwariskan kepada anak-anaknya. Sekarang mereka juga sudah mulai merintis usaha sendiri yang berbeda dengan bidang yang digeluti orangtuanya.




Ini Cerita Rusman, Penjahit Pakaian Langganan Jokowi

Ongkos Jahit Baju Deklarasi SBY Rp 300 Ribu

Bagaimana Selera Berbusana SBY? Ini Penuturan Penjahit Langganannya






Bagaimana Selera Berbusana SBY? Ini Penuturan Penjahit Langganannya

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDBqIAwsah-Cb33GPq166LlMtNKiXlT2lTrY4TaZ4KE48K2kFaqIyuEN4p6cyBJw8EDzFvH0nemi8IczfJxIf2drWgwVffF8-XL5rTt9pq2m_mSwU9YMGmeMlXtGSo8q14Y1jRycN4O94/s320/IMG3976.jpg

Kamis, 18 April 2013 16:53 WIB

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Soal mengurusi negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mungkin tidak banyak berkompromi. Tapi tidak untuk soal berbusana.

Orang nomor satu di Indonesia itu rupanya bukanlah tipe pria yang terlalu memusingkan soal model pakaian.

Hal ini diungkapkan oleh Norman dan Nani Reggy, pemilik The Beauty, tailor (penjahit baju) langganan Presiden SBY.

"Beliau tipikal orang sederhana dan tidak banyak permintaan. Kalau jas, beliau selalu minta dibuatkan yang berkancing dua, bahannya  polos berwarna hitam," ujar Norman kepada TRIBUNnews.com saat pembukaan gerai terbaru The Beauty di Plaza Indonesia, Kamis (18/4/2013).

http://www.plazaindonesia.com/uploads/201304191137560.beauty1.jpgMenurut keduanya, SBY sudah menjadi  pelanggan loyal The Beauty sejak SBY belum menjadi menteri.

"Tidak yang berubah dari beliau. Dari sebelum jadi menteri sampai presiden, beliau selalu ramah," kata Nani.

Biasanya, SBY memesan setelan ke pihak The Beauty dua bulan sekali. Fitting lebih sering dilakukan di Istana karena tidak jauh dari workshop The Beauty di Jalan Hayam Wuruk.

Proses pembuatannya pun dipercepat. Bila waktu normalnya sebulan, pakaian SBY bisa selesai dalam waktu seminggu.

"Tentu kami memprioritaskan Presiden, mengingat kebutuhannya lebih mendesak," tutur Norman.

Selain SBY, kedua anaknya, Agus dan Ibas juga menjadi pelanggan tetap The Beauty.

"Mas Agus senang dengan setelan yang slim fit. Kalau Ibas lebih memilih yang agak longgar," ujar Norman.

Pakaian bernuansa hijau menjadi pilihan paling favorit Agus. Sementara adiknya, Ibas, senang dengan busana bernuansa biru.

Ongkos Jahit Baju Deklarasi SBY Rp 300 Ribu

http://image.tempointeraktif.com/?id=11260TEMPO Interaktif, Jakarta: Persiapan deklarasi pencalonan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden tampaknya sudah matang. Tak cuma gedung, pakaiannya pun telah kelar dijahit. Pada pukul 11.00 kemarin Kwong Tung Tailor, jasa penjahit baju mengantarkan pesanan baju Yudhoyono ke Istana.
Pakaian perpaduan warna merah dan putih gading berbahan tetrun katun dan polywool itu diselesaikan dalam tempo dua hari. “Hari Selasa kemarin staf kepresidenan mengantar bahannya ke sini,” kata A Kian atau Ricki Irawan. Ia menerima kain itu bersama saudaranya yang lain, A Yung atau Raimond Irawan, serta A Lion.
“Proses menjahirnya dimulai Selasa, diawali dari pemotongan kain. Dikerjakan hingga malam. Pada Rabu pagi dibordir dan sorenya harinya sekitar pukul dua proses penyambungan. Pukul enam sore sudah selesai. Finishing seperti memasang kancing dan sebagainya dikerjakan pada malam hari, beres deh...,” jelas Ricki.
Menurut Ricky, bahan yang diantarkan staf Istana bukanlah bahan istimewa. Bahkan menurutnya, perpaduan kedua bahan itu, polywool dan katun, agak kontras. “Cocoknya kalau katun ya sama katun juga. Tapi kan saya cuma dibawakan bahan dari istana, jadi saya kerjakan saja sesuai pesanan,” imbuhnya.
Saat ditemui di tempat usahanya, Kamis (14/5), di Jalan Pacenongan 10, Jakarta, Ricky mengatakan, baju itu baru saja diantarkan ke Istana oleh salah seorang karyawannya.
Ricky menuturkan, tailor miliknya telah menjadi langganan Yudhoyono sejak masih aktif di militer dan berpangkat kolonel. “Sudah 15 tahun jadi langganan,” kata Ricki.
Tak heran apabila Ricki dan staf lainnya sudah paham ukuran dan model yang diinginkan Yudhoyono. Ia pun tak perlu mengukur badan Yudhoyono lagi. “Semua member ukurannya sudah ada di sini, jadi tidak bicara ukuran M, XL, atau yang lain,” katanya.
Model yang dipesan Yudhoyono kali ini berupa kemeja lengan panjang yang bagian tubuhnya berwarna putih. Sementara lengannya warna merah dan manset (bagian ujung lengan) warna putih. Bagian kancing pun berwarna merah dan diapit bordiran vertikal di bagian depan.
Ricki mengaku cuma membuat satu baju pesanan untuk Yudhoyono.Berapa ongkos jahit baju pesanan Yudhoyono? Ricki menggeleng. Ia enggan menyebut angka rupiah karena SBY sudah menjadi langganannya selama belasan tahu. Ia hanya menyebutkan kisaran ongkos jahit. "Sekitar Rp 300-400 ribu. Untuk celana beliau tidak pesan," ungkapnya.

Kwong Tung Tailor merupakan perusahaan keluarga yang dibangun tiga generasi dan berdiri sejak tahun 1930-an. Kwong Tung kini memiliki satu cabang di arteri Pondok Indah. Menurut Ricki, tak ada yang berubah sejak tailor ini didirikan. Nomor rumah di Jalan Pacenongan itu juga tak pernah berubah, masih nomor 10.

Ini Cerita Rusman, Penjahit Pakaian Langganan Jokowi

 

http://assets.kompas.com/data/photo/2014/10/14/0944551photo780x390.JPG

Rusman pemilik Feng Sin Tailor, penjahit pakaian para pejabat, termasuk pakaian presiden terpilih Joko Widodo dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama

Rabu, 15 Oktober 2014 | 05:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat pertama kali memutuskan mencemplungkan diri ke dunia jahit menjahit, tak pernah terlintas di pikiran Rusman ia akan menjahitkan pakaian presiden. Namun ternyata itulah yang terjadi kini.

Presiden terpilih Joko Widodo memilih menjahitkan pakaian bakal pelantikannya di Feng Sin Tailor milik Rusman. Penyedia jasa jahit tersebut sudah menjadi langganan Jokowi sejak menjahitkan baju pelantikan sebagai Gubernur DKI Jakarta dua tahun silam.

"Sejak Pak Jokowi jadi gubernur, sudah puluhan baju yang beliau pesan di saya. Jenisnya dari mulai kemeja putih, baik, bahkan jas," cerita Rusman kepada Kompas.com, Selasa (14/10/2014).

Rusman mengaku senang saat dimintai menjahitkan baju Jokowi. "Soalnya gampang, beliau enggak pernah pesan yang neko-neko. Ukurannya juga sudah dua tahun ini enggak berubah," beber pria yang sudah aktif menjahit sejak tahun 1970-an ini.

Jika ditanya kesulitan, Rusman mengklaim tak pernah mengalaminya. Gaya berpakaian Jokowi yang sederhana dan membuat Rusman mudah saja menjahitkannya.

"Enggak pernah cerewet juga soal baju," ucap dia.

Batik paling sulit, di antara semua pakaian Jokowi, Rusman mengakui, ada pakaian yang lebih sulit dibuat, yaitu kemeja batik. Pasalnya, ia harus menyesuaikan motif batik dengan pola pakaiannya. Biasanya pun Jokowi selalu membawa bahan batik sendiri, sehingga menjadi tantangan tersendiri dari Rusman untuk menyesuaikannya.

"Batiknya macam-macam. Biasanya beliau beli (bahan) dari Solo," terang dia.

Untuk sebuah kemeja batik, Rusman mematok harga Rp 500-750 ribu. Harga tergantung dari bahan batik, karena ada bahan-bahan tertentu yang harus ditambahkan kain furing. Naik kelas Bagaimana pun Rusman mengakui dirinya naik kelas.

Bila tadinya ia terbiasa menjahit untuk orang nomor satu di Jakarta, kini ia dapat menjahitkan baju untuk orang nomor satu di Indonesia. Kendati demikian, ia masih belum mengetahui apakah ia akan seterusnya menjadi penjahit langganan Jokowi atau tidak.

"Belum tahu, kalau dipanggil tentu saja akan datang," cetusnya.

Feng Sin Tailor sendiri sudah berdiri sejak tahun 1939, dan sejak zaman orde baru sudah melayani pesanan baju dari menteri-menteri. Saat ini tempat yang berlokasi di Jalan Gunung Sahari V, Jakarta Pusat tersebut memiliki sekitar 10 penjahit yang bekerja di gedung yang terpisah.

Ini Rencana Balas Dendam Adik Prabowo kepada Jokowi

 

- 09 Oktober 2014

http://cdn.metrotvnews.com/dynamic/content/2014/10/09/302779/ovrS6Jad59.jpg?w=668

Hashim Djojohadikusumo--Antara/Yudhi Mahatma

 

Metrotvnews.com, Jakarta: Adik Kandung Prabowo Subianto sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo, telah merencanakan aksi balas dendam kepada Presiden terpilih Joko Widodo. Hashim mengaku tak terima atas kemenangan Jokowi dalam Pilpres 9 Juli lalu.
Hashim mengatakan Partai Gerindra dan lima partai politik yang bersatu dalam Koalisi Merah Putih (KMP), akan mengajukan kekuatan veto atas 100 posisi yang berada dalam kewenangan presiden. Diantaranya Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Panglima Tentara Nasional Indonesia, para anggota Mahkamah Agung, dan Mahkamah Konstitusi.
“Kami berpengaruh dalam menentukan siapa yang akan duduk dalam (posisi-posisi itu),” ujarnya seperti dilansir Wall Street Journal, Selasa, 7 Oktober.
Hashim mengakui ia dan kakaknya sulit menerima kekalahan dalam Pilpres 2014. “Sejujurnya, kami tidak dapat menerima (kekalahan itu),” ujarnya.
“Saya dan kakak saya tidak berada dalam suasana hati yang baik untuk beberapa waktu. Kami merasa telah dicurangi. Tapi, tak masalah. Aturan mainnya seperti itu, dan kami menerimanya,” imbuhnya.
Kini, ia merasa lebih baik karena menang dalam menguasai lima kursi pimpinan DPR dan MPR. “Saya menikmatinya karena kami menang,” ujarnya.
Memelihara oposisi yang kuat di DPR dapat memungkinkan Prabowo untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada 2019. Pekan depan, usia Prabowo mengijak 63 tahun. Menurut Hashim belum cukup tua untuk maju sebagai capres yang ketigakalinya.
“Ia masih cukup muda untuk melakukan sejumlah hal,” ujar Hashim.
Prabowo yang jarang melontarkan pernyataan di hadapan publik sejak Pemilihan Presiden 9 Juli, aktif terlibat dalam pembentukan KMP dan dipandang sebagai pemimpin koalisi itu.
Hashim mengatakan kubu oposisi takkan bersifat “antagonistis”, namun ia meramalkan situasi yang mirip dengan Amerika Serikat ketika kubu Republik kerap memanfaatkan suara mayoritas di DPR untuk mengganjal agenda Presiden Obama.
“Prabowo dan para pemimpin partai lain akan memimpin oposisi aktif,” ujar Hashim, “kami akan mampu menguasai agenda legislatif.”
LAL

 

 

Politik Balas Dendam Hashim Djojohadikusumo & Akibatnya

http://cdn.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2014/09/09/426056/670x335/lsi-ruu-pilkada-penuh-aroma-balas-dendam-koalisi-merah-putih.jpg


 
Mania Telo
www.kompasiana.com/telomania
Perkataan Hashim Djojohadikusumo,adik Prabowo Subianto di “the Wall Street Journal-South East Asia” bahwa Jokowi harus membayar harga karena meninggalkan jabatan Gubernur DKI Jakarta untuk menjadi Presiden RI 2014-2019 dianggap oleh berbagai kalangan sebagai politik balas dendam. Apalagi struktur kalimat yang disampaikan oleh Hashim mengandung beberapa unsur kalimat negatif yang diartikan sebagai menghambat pemerintahan Jokowi-JK.
 
Walaupun beberapa politikus dari Koalisi Prabowo membantah pernyataan Hashim dan berusaha memberikan klarifikasi bahwa maksud dari pernyataan Hashim tidak seperti yang disampaikan oleh media,tetapi sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang sudah “anti” terhadap perilaku politikus koalisi tersebut tetap saja meyakini adanya “ganjalan” yang akan dilakukan oleh para politikus yang sudah membuat Sidang Paripurna DPR RI seperti “pasar malam” dan “taman kanak-kanak”.
Respon masyarakat yang “anti” terhadap Prabowo,dkk tersebut bisa ditunjukkan dengan mulai terbentuknya para relawan pendukung Jokowi yang akan mengawal pelantikan Jokowi sebagai Presiden RI 2014-2019 ; Isu negatif memang membuat orang lebih mudah percaya,apalagi sasaran isu adalah orang-orang yang memang selama ini dianggap sebagai biang keonaran politik di Indonesia pasca Pilpres 2014.
 
Masyarakat Indonesia yang melihat kegaduhan Sidang Paripurna DPR RI waktu itu dan perebutan pimpinan DPR/MPR RI sebenarnya sudah bisa membaca sikap dan gaya pelecehan yang dilakukan oleh para politikus dari Koalisi Prabowo terhadap politisi kubu pendukung Jokowi-JK. Apapun yang disampaikan oleh para politikus tersebut selalu disambar dengan komentar negatif masyarakat,rata-rata mereka dianggap sebagai pembohong,pura-pura,pecundang,aktor sandiwara,dsb. Bahkan sang Presiden SBY pun sudah dianggap sebagai seorang pemain sandiwara terbaik di Indonesia.
Baca juga :
Prabowo “The Real President”? 
Melihat permainan politik balas dendam ini,maka sulit bagi Koalisi Prabowo untuk memenangkan “hati rakyat” walau mereka menang di DPR/MPR RI atau bahkan di Mahkamah Konstitusi pun. Salah besar bila cara berpikir para politikus pendukung Koalisi Prabowo seperti apa yang dilakukan oleh Amien Rais,cs ketika menurunkan Gus Dur di Sidang Istimewa MPR RI 23 Juli 2001,sebab ketika itu pembelajaran politik rakyat belum cukup mendalam setelah Reformasi 1998 ; Juga,ada kepentingan dari para pendukung PDIP & kebanyakan rakyat Indonesia yang menginginkan Megawati Soekarnoputri sebagai partai pemenang Pemilu 1999 menjadi Presiden RI ketika itu. Posisi sekarang,sosok Jokowi dianggap sebagai sosok yang bersih dari korupsi,dari kalangan yang mewakili rakyat kebanyakan yang sederhana dan sudah terbukti sebagai pemimpin yang memang berjuang untuk rakyat bawah melalui kebijakan dan hasil-hasil yang dicapai selama dirinya menjadi Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta selama 2 tahun lebih.
 
Pembelaan rakyat terhadap Jokowi dikarenakan adanya pemilihan presiden langsung oleh rakyat,berbeda ketika presiden dipilih oleh MPR RI. Oleh karena itu,tidak mudah bagi para politikus Koalisi Prabowo akan menjatuhkan Jokowi sebagai Presiden. Beberapa kali isu pemazkulan SBY oleh DPR/MPR RI di periode kedua pun tidak cukup mudah dilakukan oleh anggota DPR/MPR RI,sebab memang rakyat tidak melihat pelanggaran serius yang dilakukan oleh SBY,walau sebagian besar rakyat sudah mulai “bosan” dengan SBY dan tingkah sanak keluarganya dikarenakan isu-isu korupsi yang beredar. Hukuman rakyat kepada SBY adalah menjatuhkan elektabilitas Partai Demokrat dan menghukumnya tidak lagi menjadi partai pemenang Pemilu.

 
Artinya,rakyat Indonesia cukup sabar untuk menjatuhkan vonis “mati” kepada para politikus dan partai politik yang membuat rakyat hidup sengsara. Hukuman rakyat Indonesia adalah dengan tidak memilih orang-orang yang diusung oleh Koalisi Prabowo,apalagi sudah mulai santer terdengar di kalangan masyarakat,”…Jangan pilih politikus dari koalisi Prabowo…! Berbahaya….!” ; Pun kalau tahun depan ada isu Referendum untuk SETUJU/TIDAK melakukan Pemilu Legislatif untuk membubarkan anggota DPR RI yang sekarang,dipastikan rakyat akan menyatakan SETUJU untuk membubarkan DPR RI yang sekarang dan diadakan Pemilu Legislatif kembali,sebab di mata rakyat sekarang ini anggota DPR RI 2014-2019 sudah menderita penyakit “dendam” yang akan merusak kesinambungan pembangunan untuk mensejahterakan rakyat.

 Kesalahan atas kemunduran demokrasi dan pembangunan akan ditimpakan kepada para politikus Koalisi Prabowo di DPR RI ini,dan bila terus menerus dilakukan hingga 5 tahun kedepan,dipastikan rakyat akan membalasnya di 2019 nanti.
Tidak percaya…? Atau Percaya…? Silahkan dicoba….!









Kantor Kepresidenan Jokowi Akan Dilengkapi dengan Teknologi Video Conference

 

Senin, 13 Oktober 2014 | 06:30 WIB

http://assets.kompas.com/data/photo/2014/10/10/18423411-20foto58780x390.JPG

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Kantor kepresidenan Joko 'Jokowi' Widodo bakal dilengkapi dengan teknologi video conference. Sistem tersebut akan mendukung aktivitas blusukan Jokowi menggunakan teknologi jaringan komunikasi."Melalui itu kita ndak mesti pergi ke suatu tempat untuk bicara dengan nelayan, petani," ujar Jokowi usai menggelar video conference di rumah relawan Jalan Sukabumi Nomor 23, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/10/2014)."Memang sih bertemu langsung ya lebih baik. Tapi bisa pakai ini dulu. Kalau ada persoalan yang serius, baru ke lapangan," lanjut Jokowi.

 

Jokowi memanfaatkan jaringan relawannya untuk mengelola sambungan teknologi video conference di seluruh provinsi di Indonesia. Fasilitas tersebut, lanjut Jokowi, bisa diadakan pemerintah. Bisa juga disediakan kelompok relawan. Dia belum bisa menentukan saat ini.Jokowi mengaku tidak khawatir mendapatkan informasi yang salah jika menggunakan sistem komunikasi tersebut. Sebab, blusukan melalui sistem tersebut hanya dilakukan di awal-awal melihat suatu persoalan.

 

"Ya selain ini ya melihat langsung ke lapangan. Melalui ini ya dilihat, masuk apa ndak? Kalau ndak ya kita cek langsung," ujar Jokowi.Jokowi memastikan bahwa teknologi video conference tersebut tidak diadakan di setiap kementerian. Teknologi itu hanya diadakan di kantor kepresidenan."Tapi ya menterinya juga mesti paham soal masalah di lapangan. Kita butuhnya yang seperti itu," ujar Jokowi.

 

Diberitakan, Jokowi berkomunikasi dengan petani di sejumlah provinsi menggunakan teknologi video conference di rumah relawan, Jalan Sukabumi 23, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat petang. Delapan unit monitor televisi tersambung dengan sejumlah provinsi. Antara lain Riau, Aceh, Maluku dan Jawa Tengah.Komunikasi Jokowi dengan sejumlah petani berlangsung lancar, meskipun beberapa kali sambungan video conference itu sempat mengalami gangguan sinyal. Jokowi merasa puas mendapat masukan dari para petani di daerah. Dia berjanji akan menyelesaikan satu per satu persoalan di sana.

Pengagum Jokowi Ini Berharap Semua Anak Indonesia Bisa Sekolah

 

Jumat, 3 Oktober 2014 | 14:27 WIB

http://assets.kompas.com/data/photo/2014/10/03/1344119Giman780x390.jpg

iman (38) penjual kue putu di Malang yang bernazar jalan kaki Malang-Jakarta untuk bertemu presiden terpilih Joko Widodo saat singgah dan ditemui Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di kantornya, Jumat (3/10/2014)

 

SEMARANG, KOMPAS.com — Giman (38), penjual kue putu yang bernazar jalan kaki dari Malang ke Jakarta jika Joko Widodo terpilih menjadi presiden, berharap semua anak Indonesia bisa bersekolah.
Keinginan itu disampaikan saat dia singgah dan bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di kantor Gubernur Jalan Pahlawan, Semarang, Jumat (3/10/2014). Ia pun mengatakan, hal itulah kelak yang akan disampaikan saat bertemu Joko Widodo.
Bapak empat anak ini mengaku sangat berharap anak-anak di Indonesia bisa bersekolah dan meraih cita-cita mereka. Tidak seperti anak sulungnya yang kini putus sekolah dan justru berjualan jamu. Dia juga tidak ingin anak-anak Indonesia seperti dia, tidak bersekolah.
Pria asli Wonogiri ini sehari-harinya berjualan kue putu dengan berkeliling menggunakan sepeda. Penghasilan setiap harinya pun tidak menentu. Bahkan tiga anaknya yang lain terpaksa diasuh kakek dan neneknya di Wonogiri.
Giman mulai berjalan kaki dari Malang sejak 21 September 2014. Ia mengaku sangat kagum kepada sosok Joko Widodo yang sangat merakyat dan pekerja keras. Ia pun yakin Jokowi akan memperhatikan nasib rakyat kecil sepertinya.
"Seribu satu nyari sosok seperti Pak Jokowi, ini nazar saya kalau Pak Jokowi jadi (presiden), saya akan jalan kaki dan sampaikan agar anak Indonesia sekolah semua," ujarnya.
Dalam perjalanan menuju Jakarta, ia sempat singgah ke beberapa tempat. Saat tiba di Semarang, ia memang ingin bertemu dengan Ganjar untuk meminta doa dan dukungan agar bisa sampai di Jakarta dengan selamat.
Sembari membawa bendera Merah Putih dan berbekal seadanya, Giman berjalan menuju Jakarta. Ia memang tidak menargetkan kapan sampai Jakarta, tetapi ia berharap bisa bertemu Joko Widodo sebelum dilantik menjadi presiden pada 20 Oktober mendatang.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, perjalanan Giman ini merupakan perjalanan yang luar biasa dengan misi pendidikan. "Ini merupakan kejujuran mimpi anak bangsa sesuai dengan apa yang diinginkan," ujar dia.
Sebab itu, ia berharap keinginan ini akan disambut baik dengan program yang sudah disampaikan Joko Widodo, yakni Kartu Indonesia Pintar. "Ini adalah perjuangan, jelas harus disuport dan ini adalah presentasi ide dari persoalan dia," ungkap Ganjar.

Prabowo “The Real President”? Jokowi "The Puppet President"?

 Benyaris A Pardosi

www.kompasiana.com/Benyaris
Dua kali Prabowo mengikuti pemilihan presiden, dua kali pula ia menelan kekalahan, tahun 2009 meski (hanya) menjadi wakil Megawati. Tahun 2014 bersama Partai Gerindra ia kembali naik dengan kendaraan pribadinya (Gerindra) bukan lagi sebagai wakil namun menjadi calon presiden. Kekuatannya pun makin matang, maklum selama lima tahun ia fokus mempersiapkan diri menghadapi pemilu. Memang cita-citanya harus menjadi presiden sepertinya. Usahanya tak sia-sia sebab kekuatannya semakin besar, iklan-iklan yang ditayangkan menarik hati rakyat. Selain itu sosoknya dinilai sebagai sosok yang tegas. Hampir bisa dikatakan bahwa tak ada calon lain yang pantas menggantikan SBY kecuali dirinya.
Semakin dekatnya waktu pemilu, ia terus berjuang mengharumkan nama serta partainya. Salah satu cara yang ia lakukan adalah mendorong sosok-sosok yang bersih dari partainya menjadi pemimpin. Maka dipinangnyalah Jokowi-Ahok menjadi Cagub-Cawagub DKI, hal ini tentu akan menarik kepercayaan rakyat akan partainya yang mampu melahirkan kader-kader bersih dan berintegritas. Hal itu terbukti karena memang Jokowi-Ahok menang dan menjadi pujaan baru masyarakat Indonesia.
Namun, menjadi menarik karena ternyata ada sosok lain yang juga pantas menjadi pengganti SBY sebagai presiden. Dia adalah orang yang “dinaikkannya” menjadi Gubernur DKI. Pendeknya kita sudah menyaksikan bersama karena akhirnya mereka menjadi lawan, dan Prabowo harus mengaku kalah. Kekalahan yang menyakitkan, karena perjuangan panjang telah sia-sia karena salahnya sendiri telah menaikkan Jokowi dulu dalam Pilgub DKI. http://assets.kompasiana.com/statics/files/2014/04/13964302001290840977.jpg
Untungnya ia masih mampu berpikir, dan harus diakui bahwa ia hebat dalam berpolitik. Kemampuannya menggandeng partai-partai besar dalam Koalisi Merah Putih adalah buktinya, sehingga parlemen ada di dalam kekuasaan mereka. Setelah berhasil menggolkan Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (RUU Pilkada) menjadi Undang-Undang, Koalisi Merah Putih menguasai penuh seluruh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2014-2019 dalam Rapat Paripurna DPR yang berakhir pada Kamis dini hari, 2 Oktober 2014. Ketua DPR dijabat Setya Novanto (Partai Golkar). Lima Wakil Ketua dijabat politikus dari partai anggota Koalisi Merah Putih, yakni Fadli Zon dari Partai Gerindra, Fahri Hamzah dari PKS, Taufik Kurniawan dari PAN, dan Agus Hermanto dari Partai Demokrat. Dipercaya KMP yang mendominasi senayan akan menjadi batu sandungan bagi pemerintah mendatang yang akan dipimpin oleh Jokowi.
 
Baca :
 Politik Balas Dendam Hashim Djojohadikusumo & Akibatnya

Ini Skenario Koalisi Merah Putih Makzulkan Jokowi dan Jadikan Prabowo Presiden

Hashim Sebut Ada Harga yang Harus Dibayar Jokowi atas Pencapresannya

"Ada harga yang harus dibayar," kata Hashim. Ia menyatakan, Koalisi Merah Putih yang menguasai parlemen akan menjadi oposisi yang aktif dan konstruktif dalam mengawal pemerintahan Joko Widodo.
Ia mengatakan, Prabowo kini aktif terlibat dalam membangun dan memimpin koalisi di parlemen. Koalisi Merah Putih, lanjut Hashim, memiliki otoritas yang cukup untuk mengawasi pemerintahan Jokowi, termasuk penentuan sejumlah jabatan di pemerintahan dan lembaga seperti kepala polri, panglima TNI, hakim agung dan anggota Mahkamah Konstitusi. 
 Jokowi Jadi Presiden Terlemah dalam Sejarah Indonesia

Keberadaan kader-kader KMP di gedung DPR adalah bentuk kelihaian Prabowo dalam melobi kawan politik. Setiap kebijakan akan ada di dalam kendalinya, Prabowo benar-benar menjadi presiden meskipun ia kalah dalam pilpres, sebab pascareformasi, banyak kebijakan, keputusan dan tindakan pemerintah secara nyata harus mendapat persetujuan parlemen sebagai wakil rakyat. Belum lagi, apabila akhirnya Gubernur dan Bupati dipilih oleh DPR, maka tak bisa dipungkiri lagi seluruh negeri ini akan dipimpin oleh kader-kader dari KMP. Maka pemerintahan benar-benar akan berada di bawa kendali Prabowo sebagai “presiden” KMP. Dengan demikian the real Presiden adalah Prabowo.









'Jokowi Jadi Presiden Terlemah dalam Sejarah Indonesia'

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3CFt7wL0mM8NWt6QHwquE7MX06v7Clg7vavLhK1Ar9BRTwX5neNRMk408Ho5y0fOONqRB2BlvIOzg9Im50Wna2mXvvcrB0QvxRb0FFpRuYYC7iCCHd3EdQU636WkqZv8uJSRIesWtaRA/s640/852746141.jpg

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik Denny Januar Ali mengingatkan Jokowi-JK untuk hati-hati dalam menjalan roda pemerintahan selama lima tahun ke depan. Itu setelah posisi ketua DPR dan MPR direbut kubu Koalisi Merah Putih (KMP) yang notabene menjadi oposisi Jokowi-JK.
"1) Akhirnya Koalisi Merah Putih menang telak atas Koalisi Indonsia Hebat, 5;0, dgn terpilihnya ketua MPR Zulkifli Hasan," katanya melalui akun Twitter, DennyJA_WORLD. "2) Untuk pertama kali dalam sejarah, pemerintahan Indonesia terbelah. Eksekutif dan Legislatif dikuasai oleh koalisi partai yg berbeda."
Menurut dia, kondisi yang terjadi di Indonesia sebenarnya mirip dengan situasi demokrasi di Amerika Serikat. Hanya saja, kultur politik di sini dan di negeri Paman Sam berbeda sekali.
"4) Di AS, misalnya, pemerintahan yg terbelah itu bisa baik karena kultur politiknya yang terbuka dan mengutamakan kepentingan publik." "4) Tapi kultur politik di Indonesia, masih didominasi oleh money politics dan 'politik balas dendam'."
Pendiri Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) itu menyebut posisi Jokowi sedang dalam bahaya. "5) Jokowi terancam menjadi presiden terlemah dalam sejarah Indonesia. 3 hal yg membuatnya terlemah."
"6) Satu, Jokowi tidak mengontrol legislatif. Sebaliknya legislatif sangat beroposisi padanya. 7) Dua, Jokowi tidak mengontrol satupun partai politik. PDIP didominasi oleh Megawati, bukan Jokowi. 8) Tiga, Jokowi bahkan di pemilu pilpres hanya unggul satu digit dibandingkan Prabowo. Berbeda misanya dgn SBY di 2009, 2004."
Karena itu, kalau Jokowi ingin menaikkan harga BBM, saran dia, maka dapat dipastikan popularitasnya bakal melorot tajam. "9) Dengan naiknya BBM nanti, sangat mungkin di opini publikpun, Jokowi akan kalah karena popularitasnya merosot. 10) Saatnya Jokowi harus merangkul sebanyak mungkin kekuatan civil society, opinion maker untuk membantu kelemahannya."

Ini Skenario Koalisi Merah Putih Makzulkan Jokowi dan Jadikan Prabowo Presiden

 

Senin, 6 Oktober 2014 | 16:25 WIB
http://assets.kompas.com/data/photo/2014/04/12/1931567prapjok780x390.jpg
Prabowo Subianto (kiri) dan Joko Widodo (kanan).
 
JAKARTA, KOMPAS.comPengamat politik dari Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), Ray Rangkuti, menduga Koalisi Merah Putih memiliki niat untuk memakzulkan presiden dan wakil presiden terpilih, Joko Widodo-Jusuf Kalla. Langkah itu akan semakin mulus jika pimpinan MPR berasal dari koalisi pendukung Prabowo Subianto tersebut.
 
 

Ray menjelaskan, nantinya jika Jokowi-JK dimakzulkan, maka pasangan Probowo Subianto-Hatta Rajasa akan menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia.
 
"Kalau Jokowi-JK dimakzulkan, maka Prabowo- Hatta naik. Sinyal ke arah sana kuat," ujar Ray dalam diskusi berjudul "Pak Jokowi: Tinggalkan KMP, Bentuk Kabinet Rakyat Anti Mafia!", di Kafe Deli, Jalan Sunda No 7, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (6/10/2014).
 
Ray berpandangan, upaya Koalisi Merah Putih di parlemen untuk menjegal Jokowi-JK jelas terlihat. Mulai dari UU Pilkada hingga UU MD3 merupakan cara-cara Koalisi Merah Putih untuk mengganggu jalannya pemerintahan Jokowi-JK. Nantinya, lanjut Ray, jika jalannya pemerintahan Jokowi-JK tidak efektif, maka rasa kepercayaan rakyat terhadap keduanya akan luntur.
Jika skenario tersebut berjalan, lanjut Ray, maka pimpinan MPR akan menggelar sidang paripurna untuk memakzulkan Jokowi JK.

Baca Juga :

Ini Rencana Balas Dendam Adik Prabowo kepada Jokowi

 
"Mereka (KMP) bisa gunakan Pasal 51 ayat 2 untuk makzulkan Jokowi-JK," ucap Ray.Untuk diketahui, Pasal 51 ayat 2 UU No 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD (MD3) berbunyi, pasangan calon presiden dan wakil presiden yang memperoleh suara terbanyak dalam sidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Dapat diartikan bahwa Prabowo-Hatta yang menjadi capres dan cawapres dengan suara terbanyak akan ditetapkan menjadi presiden dan wakil presiden untuk menggantikan presiden dan wakil presiden yang telah dimakzulkan sebelumnya.
 
 













Hashim Sebut Ada Harga yang Harus Dibayar Jokowi atas Pencapresannya

 

Selasa, 7 Oktober 2014 | 20:45 WIB
http://www.nationspetroleum.com/aboutus_hashim_ForbesAsia_clip_image002.jpg
 
 
SINGAPURA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo mengatakan, ada harga yang harus dibayar Presiden terlipih Joko Widodo atas langkahnya "meninggalkan Jakarta" dan mencalonkan diri dalam pilpres yang lalu. Hashim, dalam artikel yang ditayangkan "The Wall Street Journal" online, menganggap langkah Jokowi itu sebagai "personal betrayal"
"Ada harga yang harus dibayar," kata Hashim. Ia menyatakan, Koalisi Merah Putih yang menguasai parlemen akan menjadi oposisi yang aktif dan konstruktif dalam mengawal pemerintahan Joko Widodo.
Ia mengatakan, Prabowo kini aktif terlibat dalam membangun dan memimpin koalisi di parlemen. Koalisi Merah Putih, lanjut Hashim, memiliki otoritas yang cukup untuk mengawasi pemerintahan Jokowi, termasuk penentuan sejumlah jabatan di pemerintahan dan lembaga seperti kepala polri, panglima TNI, hakim agung dan anggota Mahkamah Konstitusi.

 BACA JUGA:

Prabowo “The Real President”?


"Prabowo dan pemimpin partai koalisi lainnya akan memimpin sebuah oposisi yang aktif. Kami akan mampu mengontrol agenda legislatif," katanya.
Adik kandung Prabowo ini mengibaratkan hubungan Jokowi dengan DPR dalam lima tahun ke depan akan mirip dengan apa yang terjadi di Amerika ketika Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang berasal dari Partai Demokrat seringkali menghadapi kebuntuan di kongres yang dikuasai Partai Republik.
Hashim mengaku, motivasi untuk menjadi oposisi yang aktif juga dilatarbelakangi oleh latar belakang hubungan antara dirinya dan Jokowi di masa lalu. Ia mengatakan, Jokowi melakukan apa yang disebutnya sebagai "personal betrayal".
Jokowi, kata dia,  pernah berjanji pada Hashim untuk memimpin Jakarta selama lima tahun penuh. "Ada pemahaman soal ini di antara kami, bukan implisit tapi eksplisit. Kami merasa dia menjadi sangat politis," kata Hashim.
Hashim mengaku ia menjadi penyandang dana utama Jokowi selama masa kampanye pilkada DKI Jakarta.
Ini bukan kali pertama Hashim mengungkit soal dana kampanye saat pilkada Jakarta. Di masa kampanye pilpres, Hashim menyebut dirinya dibohongi Jokowi. Ia mengaku mengeluarkan Rp 52 miliar untuk kampanye pilkada Jakarta. (Baca: Hashim Djojohadikusumo: Saya Sudah Dibohongi Jokowi 1,5 Tahun).
Saat itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta yang juga kader Partai Gerindra Basuki Tjahaja Purnama membantah bahwa dana Rp 52 miliar digunakan sepenuhnya untuk mendukung Jokowi. Menurut Basuki, dana itu dihabiskan untuk iklan televisi yang banyak menampilkan sosok Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. 
"Jadi ada iklan Pak Prabowo, terus Pak Jokowi sekelibat lewat. Makanya Pak Jokowi tidak merasa itu bantu dia. Pak Jokowi malah minta stop. Dia tidak mau ada iklan di TV," katanya. (Baca: Ahok: Iklan Pilgub DKI Banyak Tampilkan Prabowo).
Jokowi juga menampik tuduhan Hashim Djojohadikusumo. "Ah, itu sudah dibantah sama Pak Ahok juga, kan. Uang yang masuk ke dalam rekening kita itu Rp 6 miliar," ujarnya (baca: Ini Jawab Jokowi Dituding Bohongi Hashim)








Kisah Hidup Jokowi

 

Dari Aliran Kali Pepe, Tongkat Kayu dan Bambu Jadi Jokowi


Bagus Prihantoro Nugroho – detikNews
 Mengalir kecil sebuah Sungai Pepe di Surakarta, Jawa Tengah, sebuah sungai yang tak sebesar dan tak seternama Bengawan Solo. Sungai itu melintasi desa di wilayah Srambatan yang penuh dengan kayu dan bambu di masa silam.
Sebuah rumah sangat sederhana dari gedhek (anyaman bambu) berdiri meski tak begitu kokoh di bantaran sungai Pepe. Dari situlah cerita ini bermula, ketika kamar paling murah di RS Brayat Minulyo menjadi saksi bisu lahirnya seorang yang sederhana pula di hari Rabu Pon, tanggal 21 bulan Juni tahun 1961.


Tangis bahagia keluar dari Sujiatmi ketika melahirkan buah cintanya dengan Notomiharjo waktu itu. Nyala redup lampu semprong mengiringi bayi laki-laki yang akhirnya diberi nama Joko Widodo.Tak jauh berbeda kehidupan bantaran kali masa kini dengan kala itu, banyak digusur atau pun diminta pindah oleh pemilik rumah.
Kehidupan Joko Kecil diwarnai oleh suasana nomaden karena harga sewa rumah terus naik.Bantaran sungai Dawung Kidul menjadi tempat hinggapan kedua dengan suasana yang tak jauh berbeda tapi ukuran yang lebih kecil.
Berpindah lagi ke daerah Munggur yang lagi-lagi dialiri Sungai Pepe, di situlah kebahagiaan keluarga Notomiharjo bertambah dengan kehadiran tiga putri lagi.

Penghasilan pas-pasan sebagai tukang kayu di desa membuat Notomiharjo harus memutar otak dengan keras. Tapi dari kayu itulah Notomiharjo bisa menyekolahkan Joko Kecil dan ketiga putrinya.
Bantaran Kali Anyar menjadi persinggahan selanjutnya karena di situ itulah sebuah pasar kayu besar bergeliat. Kehidupan keluarga Notomiharjo sedikitnya berubah dari riuh rendah perkampungan menjadi ramai-ramai suasana Pasar Gilingan, Surakarta

 "Orang tua saya, Notomiharjo dan Sujiatmi, adalah sosok luar biasa yang tahu bagaimana mengelola keluarga bahagia walau berada dalam kondisi serba terbatas," ujar Joko Widodo seperti dikutip detikcom dari buku 'Jokowi: Memimpin Kota Menyentuh Jakarta' karya Alberthiene Endah, Selasa (22/7/2014).
Pertama kali Joko kecil bersekolah adalah di SD Negeri 111 Tirtoyoso, Solo, selama 6 tahun sejak 1968. Tak ada biaya untuk membeli sepeda untuk menemani dia sekolah, maka jalan kaki adalah yang paling memungkinkan.Langkah demi langkah Joko kecil hingga usia 12 tahun rupanya membuat dia melihat-lihat bagaimana cara menggergaji kayu dan memotong bambu. Telur-telur bebek yang tergeletak tak bertuan juga menarik perhatian bocah itu.
Tak ingin berlama-lama menjadi beban ayahnya yang hanya tukang kayu, dia juga memulai berpikir bagaimana cara berdagang. Rasa tertariknya pada dunia dagang berdagang dituangkan dengan memanggil-manggil pedagang apa pun yang lewat.



"Saking getolnya saya memanggil pedagang, suatu kali saya dengan kencang meneriaki abang yang entah berdagang apa agar mendekat. Ternyata dia pedagang arang. Terlanjur dipanggil, ya terpaksa Ibu membayar arang-arang tersebut, padahal saya tidak butuh," kata Jokowi.
Memang pedagang-pedagang keliling kala itu menginspirasi Joko kecil untuk gigih mencari nafkah. Sejak itu dia semakin akrab dengan dunia 'wong cilik'.
"Masa kecil saya adalah pembelajaran pertama tentang bagaimana memahami kehidupan rakyat. Apa yang saya lakoni saat ini tak bisa terlepas dari atmosfer yang menumbuhkan saya. Bantaran sungai kumuh di Surakarta itu mengajarkan saya banyak hal. Hidup manusia dan harapan," tutur Joko Widodo.


Sudah terbiasa melangkahkan kaki dari Pasar Gilingan menuju sekolah, rupanya Joko kecil harus pindah lagi bersama keluarganya. Notomiharjo yang tak sanggup lagi membayar sewa rumah pun terpaksa mengajak keluarganya menumpang tinggal di rumah kakak dari Sujiatmi yang terletak di wilayah Gondang.

 
Meski sudah tidak lagi tinggal di tengah ramainya Pasar Gilingan, suasana di Gondang terasa lebih hangat. Satu atap dengan keluarga besar membuat Joko kecil merasakan kehangatan.Di sisi lain kehidupan menumpang seperti itu sebenarnya tak seharusnya terjadi. Biar bagaimana pun sebuah keluarga harus mampu menjalani kehidupan sendiri.

Usaha Notomiharjo berjualan kayu juga semakin terpuruk karena tak lagi bisa berjualan di Pasar Gilingan yang ramai. Bertolak dari kondisi tersebut akhirnya membuat Notomiharjo merambah ke jalanan, menjadi sopir.
Ayah Joko itu menapaki dunia persopiran mulai dari sopir pribadi hingga sopir bus antar provinsi. Setiap malam Sujiatmi menunggu suaminya pulang hingga larut.

Tapi ternyata usaha gigih itu tak sia-sia, Notomiharjo kemudian mengajak keluarganya pindah dan mengontrak rumah sendiri di wilayah Manahan. Ketika itu Joko sudah menginjak usia remaja dan melanjutkan jenjang pendidikan ke SMP 1 Solo, sebuah sekolah yang bisa dibilang favorit.
Kehidupan masa SMP Joko Widodo tak banyak mengisahkan hal-hal baru, masih tetap diselimuti kesederhanaan meski Sang Ayah cukup sukses menjadi sopir. Melangkahlah kemudian Joko Widodo ke SMA Negeri 6 Solo, setelah kurang sukses terseleksi masuk ke SMA Negeri 1 Solo.

Sebuah ukiran baru terbentuk ketika Joko Widodo menginjakan kaki di SMA. Saat itu akhirnya sang ayah bisa membeli rumah kecil-kecilan di tengah kota Solo sehingga tak lagi menjadi nomaden bantaran kali.
"Kerap kali saya mensyukuri perubahan hidup kami yang membaik. Tapi tak jarang pula saya rindu bunyi air sungai yang mengantar saya tidur hingga bangun lagi di pagi hari," ungkap Joko Widodo yang sekarang akrab dipanggil Jokowi.


sumber : detik.com




Yang Lucu-lucu Debar Pilpres 2014 - Hatta keliru Kalpataru dengan Adipura




Debat pasangan Capres-Cawaprea tanggal 5 Juli 2014 merupakan debat terakhir, beberapa jam sebelumnya di Gelora Bung Karno grup band Slank dan 200 artis menggelar Konser Salam Dua Jari dan Jokowi menyampaikan maklumat Jokowi – JK.

Calon wakil presiden nomor urut 1, Hatta Rajasa, menyia-nyiakan kesempatan bertanya kepada lawannya, Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Hatta salah bertanya soal penghargaan lingkungan untuk kota. Hatta yang menanggapi jawaban Jokowi mengatakan dana dan piala tidak begitu prinsip dalam permasalahan lingkungan. Soalnya, menurut dia, penghargaan merupakan refleksi suatu kota berhasil menjadikan lingkungannya hijau dan sehat. Dia pun langsung menyerang Jokowi soal DKI Jakarta yang tahun ini tidak mendapat kalpataru. Padahal, katanya, Jakarta langganan penghargaan itu. Solo juga belum pernah mendapatkannya.
 
Pernyataan Hatta itu langsung disanggah Jusuf Kalla. "Pertanyaan bapak bagus, tapi keliru. Harusnya adipura," ujar Kalla di Hotel Bidakara, Sabtu, 5 Juli 2014.Hatta pun hanya senyum pahit dan berujar, "Salah tapi tetap dijawab." Ketika dipersilakan moderator untuk menanggapi pernyataan Kalla, Prabowo dan Hatta memilih bungkam. Padahal, waktu untuk bertanya masih tersisa.
 
Debat yang bertema Pangan, Energi, dan Lingkungan Hidup ini merupakan debat calon presiden putaran terakhir atau kelima. Moderator debat kali ini Rektor Universitas Diponegoro Sudharto P. Hadi. Waktu debat selama dua jam dimulai pukul 20.30 WIB dibagi menjadi enam segmen. (Baca: Hendropriyono: Otak Kampanye Hitam Sudah Diketahui)

Hatta membuka sesi pertanyaan itu dengan meminta pandangan soal penghargaan Kalpataru. "Banyak kota menginginkan penghargaan tertinggi atau Kalpataru. Seberapa jauh pandangan soal ini dan upaya mencapainya," kata Hatta. Ketika itulah Jokowi memaparkan penghargaan tersebut harus diberikan bukan hanya piala, namun juga insentif anggaran. Dengan begitu, masyarakat akan berlomba-lomba untuk memperbaiki lingkungannya.


Sementara itu salah seorang juru kampanye  memeberi komentar bahwa pertanyaan ngawur Hatta itu merupakan gol bunuh diri, , Adian Napitupulu menilai, skor telak dalam debat kandidat diraih jagoan yang diusungnya. Kesalahan fatal kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa terletak saat Hatta salah memberikan pertanyaan.

"Dari enam sesi, Jokowi-JK unggul di tiap sesi. Tapi di sesi lima, tentang Kalpataru dan Adipura, Hatta gol bunuh diri, jadi total tujuh untuk Jokowi-JK, dan kosong untuk Prabowo-Hatta," ujar dia kepada Kompas.com, Minggu (6/7/2014).
Adian merasa lucu atas momen di sesi kelima tersebut. Hatta ditengarainya hendak menjadikan pertanyaan tersebut untuk mempertontonkan kepintaran sekaligus membuat Jokowi tampak bersalah. Hal itu terlihat dari pertanyaan Hatta yang mengarah bahwa Solo dan Jakarta tidak pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru.

"Tapi akibat ketidakpahaman Hatta terhadap penguasaan istilah. Maksudnya Hatta itu kan Adipura, bukan Kalpataru. Yang terjadi malah sebaliknya, Hatta mempertontonkan ketidakmengertiannya," lanjut Adian.
Calon legislatif terpilih periode 2014-2019 itu mengingatkan bahwa kemenangan terhadap debat memiliki korelasi kuat dengan kepastian mewujudkan kesejahteraan kepada rakyat. Melalui debat, kata Adian, publik mengetahui mana pemimpin yang mampu mengartikulasi program, visi dan misi.

Adian mencontohkan, jika pemimpinnya hanya mengejar bagaimana menambah jumlah lahan pertanian tetapi tidak memikirkan bagaimana memasarkan produk, proses produksi, bahkan faktor irigasinya, tentu publik menganggapnya sesuatu yang tak ideal untuk didukung.
"Korelasi antara pernyataan yang disampaikan dalam debat dengan perwujudan kesejahteraan telah disampaikan Jokowi-JK di dalam debat tadi malam," ujar dia.

Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyelenggarakan acara debat terakhir dalam masa kampanye Pilpres 2014, Sabtu (5/7/2014) malam. Rektor Universitas Diponegoro, Prof Sudharto P Hadi PhD dipilih dalam debat dengan tajuk "Pangan, Energi dan Lingkungan".

Lagi, Balasan Surat Terbuka untuk Putri Amien Rais soal Jokowi

http://static.squarespace.com/static/539c8277e4b0c64be2198bee/t/53a470a3e4b0202540eab748/1403409097383/?format=750wTentang Penulis :
Penulis adalah Dian Paramita. Blogging sejak tahun 2007.
Seorang wanita Indonesia 26 tahun yang tinggal di Jogja.
Seorang sarjana di bidang ekonomi dari Universitas Gadjah Mada.
Seekor ibu yang mencintai politik dan makanan. Menemukan  gairahnya dalam hak asasi manusia dan hewan.
Dia tidak bisa hidup tanpa orang-orang yang mencintainya.

 

 

 
http://kostsudirmanthamrin.blogspot.ca/

Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia

June 30, 2014
Yang Terhormat Mbak Tasniem Fauzia,
yang dulu sangat saya kagumi sebagai kakak kelas di SMP 5 Yogyakarta.
Mungkin Mbak lupa siapa saya. Panggilan saya Mimit. Saat saya kelas 1 dan Mbak Tasniem kelas 3, kita mendapat kursi bersebelahan untuk mengikuti ulangan umum. Saya ingat betul, Mbak selalu meminjam pensil saya, lalu pulpen saya, lalu penghapus saya, kemudian Mbak berbisik, "sorry ya Dek, aku kere..." Saya tertawa senang mendengarnya. Karena saat itu Mbak Tasniem adalah anak dari Ketua MPR, Amien Rais.
Kita sering mengobrol saat ujian. Dari situ Mbak tau saya fans berat grup musik The Moffatts. Kita bercerita mengenai
pengalaman kita nonton konser The Moffatts. Saya nonton yang di Jakarta, Mbak yang di Bandung. Beberapa hari kemudian, Mbak jauh-jauh jalan dari kelas Mbak untuk mendatangi kelas saya, lalu memberikan foto-foto The Moffatts yang Mbak jepret di Bandung. Saya senang sekali. Sampai sekarang foto itu saya simpan. 

Ikuti isi Maklumat Jokowi jika jadi Presiden disini.


Setelah Mbak sudah SMA dan saya masih SMP, saya sempat bertemu dengan Mbak di sebuah toko buku. Saat itu Mbak memakai celana baggy hijau dan kaos band berwarna hitam. Mbak terlihat tomboy dan sederhana. Dengan senyum Mbak membalas sapaan saya. Saya yakin, di toko buku itu tak ada yang tau bahwa Mbak Tasniem adalah anak seorang Ketua MPR. 

Berulang kali saya ceritakan tentang sosok Mbak Tasniem yang saya kenal dan kagumi. Saya ceritakan ke ibu saya, ke teman-teman saya, ke siapapun jika sedang membicarakan anak pejabat. Karena Mbak berbeda dengan anak pejabat lainnya, saya bangga pernah mengenal Mbak Tasniem.  
Namun maaf Mbak, kekaguman saya buyar setelah membaca surat terbuka Mbak untuk Jokowi, 26 Juni 2014 lalu. Karena surat itu tidak seperti surat dari Mbak Tasniem yang saya kenal humble, sederhana, dan jujur. Jika saya berpikiran dangkal, tentu saja saya akan berfikir Mbak menulis itu karena Mbak adalah anak dari Amien Rais, pendukung Prabowo. Namun saya menahan diri untuk tidak berfikir seperti itu dulu. 

Oleh karena itu, saya sungguh-sungguh ingin bertanya, apakah benar Mbak Tasniem yang menulis surat itu? Tanpa desakan atau pengaruh dari orang lain? Saya juga berharap Mbak menjawab dengan hati nurani yang paling dalam, jika benar Mbak menulis surat itu, apakah Mbak yakin surat itu baik untuk bangsa ini? 

Saya yakin sulit bagi Mbak Tasniem untuk menjawabnya dengan hati nurani yang paling dalam jika di sekeliling Mbak Tasniem adalah pendukung Prabowo. Apalagi mereka adalah keluarga tercinta. Oleh karena itu ijinkan saya membantu Mbak untuk merenunginya dan menjawab beberapa pertanyaan Mbak untuk Jokowi yang saya rasa tidak tepat.
Sumpah Jabatan Jokowi

Ikuti isi Maklumat Jokowi jika jadi Presiden disini.
 
Pertanyaan Mbak mengenai Jokowi yang meninggalkan Jakarta bukan pertanyaan baru. Saya sudah sering mendengar pertanyaan template ini dari para pendukung Prabowo. Mengapa Jokowi melanggar sumpah jabatannya untuk menyelesaikan Jakarta dan justru mencalonkan diri sebagai presiden? 
 
Sebelum menjawab terlalu jauh, ada yang harus diluruskan terlebih dahulu agar Mbak Tasniem maupun semua pembaca surat Mbak tidak salah mengerti apa isi sumpah jabatan. Berikut isi sumpah jabatan yang disebutkan Jokowi maupun Ahok di pelantikan mereka 2012 lalu.
Demi Allah saya bersumpah/saya berjanji.

Akan memenuhi kewajiban saya,

sebagai Gubernur/Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta,

dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya,

memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,

dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya,

dengan selurus-lurusnya,

serta berbakti kepada masyarakat, nusa, dan bangsa.

Semoga Tuhan menolong saya.
Agar lebih jelas, Mbak Tasniem bisa menonton video sumpah jabatan Jokowi-Ahok disini: Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI masa periode 2012-2017

Mendengarkan ulang pelantikan itulah yang membuat saya bertanya, apakah Mbak Tasniem betul-betul sudah membaca atau mendengar ulang isi pelantikan Jokowi dengan Ahok tersebut? Karena dalam pelantikan itu saya tidak menemukan satu katapun sumpah Jokowi harus menyelesaikan Jakarta hingga beres. Seperti yang sudah diatur, Jokowi mengucapkan ulang sumpah jabatan itu untuk menjadi Gubernur DKI yang baik, adil, lurus, sesuai UUD '45, UU, dan peraturan, untuk berbakti kepada masyarakat, nusa, dan bangsa. Lalu dimana letak Jokowi melanggar sumpah jabatan seperti kata Mbak Tasniem? 

Kalaupun kita mengalah menggunakan logika Mbak Tasniem untuk menuntut sumpah Jokowi agar membereskan Jakarta, maka semua gubernur sebelum Jokowi juga harus kita tuntut. Mereka semua juga belum membereskan Jakarta. Mengapa hanya Jokowi saja yang dituntut? Toh Jakarta "tidak beres" bukan karena Jokowi. Justru seharusnya kita menuntut mereka yang membuat Jakarta sedemikian rupa buruknya.
Saya setuju Jakarta itu penting untuk segera diperbaiki. Tetapi Jakarta tidak serta merta hancur lebur jika ditinggalkan Jokowi. Jokowi memiliki wakil sehebat Ahok. Jokowi tahu itu. Ahok pun adalah sosok yang diunggulkan Prabowo. Maka jika Jokowi bisa mempercayakan Ahok untuk menggantikannya memimpin Jakarta, mengapa Prabowo sebagai pencalon Ahok tidak bisa percaya kepadanya? Mengapa Mbak Tasniem tidak bisa percaya kepada Ahok? 

Mungkin Mbak Tasniem hanya sedikit tidak teliti membaca sumpah jabatan Jokowi. Saya pahami. Itu normal terjadi. Namun Mbak, dari tuntutan Mbak tersebut, yang paling menggelisahkan adalah seakan mengingatkan Jokowi untuk menyelesaikan Jakarta itu jauh lebih penting daripada mengingatkan Prabowo untuk menyelesaikan kasus penculikan 1998. Ada 23 orang diculik, 9 mengaku disiksa, 13 belum kembali, dan 1 mati ditembak. Beberapa korban yang kembali pernah bertemu korban yang masih hilang di markas Kopassus Cijantung. Sehingga Prabowo tidak serta merta terlepas dari keterkaitan kasus korban yang masih hilang. 

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQoWy1onZ5fN-X6ed4XWyOH_EQ60DiD6EMLxfsepPOT9nRzmQb2
credit : solopos.com
 Ikuti isi Maklumat Jokowi jika jadi Presiden disini.

Mungkin Mbak Tasniem tidak tau, bahwa kasus penculikan 1998 belum selesai. Prabowo belum dinyatakan bersalah atau tidak bersalah oleh pengadilan karena pengadilan untuk kasus ini tidak kunjung dilakukan. Sejak 1998, 3 lembaga negara antara lain Dewan Kehormatan Perwira (DKP), Tim Ad Hoc Komnas HAM, dan Tim Gabungan Pencari Fakta, sudah melakukan penyelidikan dan menemukan keterlibatan Prabowo dalam kasus penculikan 1998 tersebut. Dalam penyelidikannya, tahun 2005-2006 Tim Ad Hoc Komnas HAM memanggil Prabowo untuk bersaksi, namun ia mangkir tak pernah memenuhi panggilan. Tahun 2006, dibantu DPR, Komnas HAM mengajukan pengadilan kasus ini ke Jaksa Agung. Namun hingga detik ini, pengadilan kasus ini belum juga disetujui. Jadi sekali lagi, belum ada pengadilan untuk kasus ini. Maka belum ada kejelasan hukum mengenai status Prabowo bersalah atau tidak bersalah. Untuk lebih jelasnya, saya pernah menulis disini: Rangkaian Penculikan dan Keterlibatan Prabowo

Lalu apakah memintanya untuk segera menyelesaikan kasus ini di pengadilan tidak jauh lebih penting? Ada 9 keluarga korban yang selama 16 tahun menanti kejelasan dimana orang tercinta mereka, Mbak. 16 tahun dan belum ada keadilan. Kata seorang ibu korban yang masih hilang, "separuh usiaku untuk membesarkan anakku. Separuh jiwaku terus sepi menunggu dia kembali..."  

Tidak seperti Jokowi yang bisa digantikan Ahok dalam memimpin Jakarta, penyelesaian kasus penculikan 1998 hanya bisa dimulai dari kesaksian Prabowo. Tak ada yang bisa menyelesaikan kasus ini tanpa Prabowo ke pengadilan dan membuka semua kebenaran. Termasuk menyeret semua jendral yang terlibat.  

Lagipula, menurut surat rekomendasi DKP pun Prabowo direkomendasikan untuk diberhentikan dari dinas keprajuritan karena melanggar Sapta Marga dan sumpah prajurit. Salah satu sumpah prajurit adalah tidak membantah perintah atasan dan salah satu isi Sapta Marga adalah membela kejujuran, kebenaran, maupun keadilan. Prabowo melanggar sumpah prajuritnya dengan melakukan tindakan yang tidak sesuai komando atasannya. Prabowo pun melanggar Sapta Marga-nya karena tidak bersedia memberi kesaksian saat dipanggil Komnas HAM terkait kasus penculikan 1998. Walaupun kesaksiaan Prabowo penting untuk memberikan keadilan kepada korban dan keluarga korban.
Mbak Tasniem, justru inilah yang disebut melanggar sumpah jabatan. Apa yang diucap Prabowo, tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya. Lalu mengapa Mbak Tasniem lebih menggelisahkan Jakarta dan Jokowi yang ternyata tidak melanggar ucapan sumpahnya, daripada menggelisahkan nasib kakak-kakak kita yang diculik, disiksa, dibunuh, dihilangkan, dan Prabowo yang jelas melanggar ucapan sumpahnya? 

Ditakut vs Disegani
Mbak Tasniem yang cantik, ingat tidak kita pernah mengidolai The Moffatts? Sampai rela berdesak-desakan untuk menonton mereka dan mengambil gambar mereka. The Moffatts adalah band asing asal Kanada. Namun apakah kita takut kepada mereka? Kita menyukai dan mengaggumi mereka, bukan takut pada mereka. Itulah yang penting dalam menjalin hubungan antar bangsa. Saling menghormati dan dihormati. Bukan saling menakuti dan ditakuti. 

Menurut Mbak Tasniem founding father kita pernah berpesan untuk memiliki pemimpin yang ditakuti, dibenci, dan dicaci maki asing karena pemimpin yang seperti itulah yang akan membela kepentingan bangsa. Tapi saya rasa ini tidak tepat untuk di jaman yang lebih ramah seperti sekarang. Saya katakan ramah karena di jaman sekarang ini, segala permasalah antar negara tidak lagi diselesaikan dengan perang. Tetapi sebisa mungkin kita selesaikan dengan menggunakan cara damai kekeluargaan yaitu jalur diplomasi.
Maka untuk apa memiliki pemimpin yang ditakuti bangsa lain? Kita tidak sedang berperang. Kita sedang menjalin hubungan baik saling menguntungkan antar bangsa. Memiliki pemimpin yang ditakuti tidak akan memberi dampak yang positif bagi bangsa ini. Contohnya Korea Utara. Amerika Serikat bahkan PBB pun tak dapat ikut campur dengan apa yang sudah Kim Jong Un perbuat dengan keji kepada rakyatnya. Karena mereka takut. Lalu apakah ketakutan AS pada Kim Jong Un itu berdampak baik bagi rakyat Korea Utara? Justru tidak. Jika kita kaget dan iba menonton film jaman dahulu yang rajanya menyiksa rakyat dan memperlakukan rakyat dengan tidak adil, maka jangan kaget pula jika itu masih terjadi di Korea Utara. Hingga detik ini.
Sehingga bagi saya Mbak Tasniem, kita tidak lagi membutuhkan pemimpin yang ditakuti, namun disegani bangsa asing. Karena di jaman kita sekarang, kita tidak lagi sedang berperang, namun kita sedang bekerja sama yang saling menguntungkan. Saya mohon Mbak Tasniem, jangan lagi memandang bangsa asing sebagai musuh. Karena itu akan menghacurkan kita sendiri. Pandanglah bangsa asing sebagai teman baik untuk bekerja sama dan berkompetisi. Untuk memiliki teman baik seperti itu, maka kita harus ramah namun disegani, bukan ditakuti. 

 Ikuti isi Maklumat Jokowi jika jadi Presiden disini.

Saya percaya, bahwa Jokowi tidak akan sempurna nantinya. Namun saya pun percaya, dia bukan jenis pemimpin yang represif atau yang memaksakan perintahnya kepada rakyat. Sehingga nantinya, jika Mbak Tasniem merasa Jokowi tidak bisa membela kepentingan bangsa di atas kepentingan asing, kita bisa dengan lantang tanpa rasa takut untuk mengkritisinya.
Jokowi dan Bangsa Asing

Tentu saja sosok Jokowi sudah menjadi sosok yang disegani bangsa asing. Ia berulang kali disorot media asing dengan positif. Salah satunya, seperti yang Mbak Tasniem sebutkan, Jokowi masuk dalam majalah Fortune. Tidak tanggung-tanggung ia dinobatkan sebagai salah satu dari 50 pemimpin terbaik di dunia. Ia disandingkan dengan para pemimpin hebat lainnya seperti Dalai Lama, Bill Clinton, Pope Francis, dan Aung San Suu Kyi. Mengutip majalah Fortune sebelum memperkenalkan 50 pemimpin hebat versi mereka, 
In era that feels starved for leadership, we've found men and women who will inspire you - some famous, others little known, all of them energizing their followers and making the world better.
Membaca kutipan itu dan mengetahui bahwa ada orang Indonesia termasuk yang disebut di dalam kutipan itu, maka seharusnya Mbak Tasniem bangga, bukan khawatir. Bahwa ada calon pemimpin kita yang disegani bangsa asing sedemikian rupa. Sehingga akan membantu kita berhubungan baik saling menguntungkan dengan mereka.

Jokowi Mampu
Mbak Tasniem yang manis, sebenarnya apa yang Mbak tanyakan kepada Jokowi mengenai kemampuannya memimpin 250 juta jiwa Indonesia seharusnya ditanyakan juga kepada Prabowo. Apakah Prabowo mampu? Namun baik Jokowi maupun Prabowo tidak perlu menjawab. Hanya rekam jejak mereka yang bisa menjawab dengan jujur, apakah mereka mampu atau tidak memimpin bangsa ini? 

Ikuti isi Maklumat Jokowi jika jadi Presiden disini.

Rekam jejak Jokowi mengatakan ia mampu. Ia telah memimpin Kota Solo dengan baik. Kalo tidak baik, mengapa rakyat Solo menyanjung dan menghormatinya hingga sekarang? Bahkan mendukungnya untuk menjadi presiden? Kalo tidak baik, mengapa sejak dahulu kita sudah mendengar nama Jokowi walaupun ia hanya seorang walikota? Saya ingat betul saya mendengar nama besar Jokowi pada tahun 2011, di acara Provocative Proactive yang dipandu teman baik saya Pandji Pragiwaksono. Acara ini adalah sebuah acara remaja yang membahas politik. Di kesempatan itu Mas Pandji menyebut Jokowi sebagai seorang walikota yang hebat. 

Beberapa bulan kemudian banyak sekali berita baik mengenai kinerjanya. Karena itu masyarakat memohon kepada PDIP untuk mencalonkan Jokowi agar memimpin ibukota Indonesia, Jakarta. Ia pun berangkat ke Jakarta dan terpilih. Tidak sampai disitu, ia pun melakukan berbagai perubahan berarti, seperti pembangunan MRT, penertiban Tanah Abang, penertiban topeng monyet, dsb. Kemudian masyarakat memohon kepada Megawati dan PDIP untuk mencalonkan Jokowi sebagai presiden. Termasuk saya. Termasuk keluarga saya. Termasuk teman-teman saya. Banyak. Ia mencalonkan diri sebagai presiden bukan karena paksaan Megawati, namun karena paksaan saya dan jutaan rakyat lainnya. 

Sementara rekam jejak Prabowo belum menunjukkan ia mampu memimpin 250 juta jiwa Indonesia. Ia adalah mantan seorang pemimpin prajurit militer. Mbak Tasniem, prajurit militer itu berbeda dengan rakyat sipil. Dimana prajurit harus menuruti semua komando pemimpinnya, tanpa boleh protes. Berbeda dengan rakyat sipil yang justru idealnya terus mengkritisi pemerintah jika dirasa kebijakannya tidak baik. Bahkan sebagai prajurit pun Prabowo pernah diberhentikan dari ABRI 11 tahun sebelum masa pensiunnya. Disini letak perbedaannya. Jokowi sudah teruji dan dipuji saat memimpin rakyat sipil di 2 wilayah Indonesia, sementara Prabowo belum teruji dan bahkan pernah diberhentikan dari militer.  

Maka dari itu Mbak Tasniem, bertanyalah pada hati yang terdalam, apakah seseorang bisa kita percaya akan menjadi pemimpin yang baik jika belum teruji dan pernah diberhentikan? Menurut rekam jejak kedua calon, siapakah yang lebih siap dan mampu memimpin 250 juta jiwa Indonesia yang mayoritas sipil itu? 

Blusukan Jokowi
Saya tahu Mbak Tasniem dari keluarga muslim yang dihormati. Saya pun yakin Mbak Tasniem adalah seorang muslimah yang baik. Karena muslimah yang baik adalah mereka yang selalu berprasangka baik. Maka mari kita berprasangka baik pada blusukan Jokowi. 

Blusukan Jokowi tidak begitu saja langsung diketahui media lalu disorot. Ada prosesnya. Darimana media tau Jokowi blusukan jika sebelumnya Jokowi tidak blusukan di berbagai tempat? Blusukan Jokowi dilakukannya jauh sebelum media tahu, lalu kemudian menjadi pembahasan masyarakat, lalu kemudian media tertarik dan meliput. 

Namun untuk menjawab keraguan Mbak Tasniem mengenai keikhlasan Jokowi dalam blusukan dan kesederhanaannya, mungkin Mbak Tasniem perlu mengetahui cerita kesaksian dari 3 anak bangsa ini. Namanya Maya Eliza, Vicky Nidya Putri, dan Fandy.
Maya Eliza.jpg
Fandy.png

 
Karena kagum, baik Maya, Vicky, maupun Fandy membagikan cerita dan fotonya ke Facebook. Pengalaman mereka ini menjadi viral dibagikan oleh anak bangsa lainnya. Ini bukan cerita dari media. Ini cerita dari anak bangsa seperti kita, Mbak Tasniem.  

Dana dan Kebocoran
Menanggapi pertanyaan Mbak tentang asal dana untuk program Jokowi akan sulit. Karena itu memang hanya bisa ditanggapi oleh Jokowi dan timnya sendiri. Namun kemudian Mbak Tasniem menyebutkan kebocoran kekayaan alam Indonesia yang dijelaskan Prabowo di dalam debat capres kedua. 

Mbak Tasniem yang cerdas, bukankah kebocoran yang disebut Prabowo itu penuh perdebatan? Jika Prabowo mengaku mendapatkan data kebocoran itu dari Abraham Samad, maka sebenarnya maksud Abraham Samad yang bocor itu bukan dana yang sudah ada, bukan pula alam Indonesia. Maksud Abraham Samad mengenai kebocoran adalah hilangnya potensi pendapatan negara. Potensi ini hilang bukan karena dicuri, namun karena banyak pengusaha yang tidak membayar pajak atau banyaknya produk impor yang masuk.
Jika menurut Mbak Tasniem dana program Prabowo berasal dari kebocoran itu, maka ini berarti pihak Prabowo menggantungkan dana program mereka dari sesuatu yang masih bersifat potensi. Potensi yang masih mungkin berhasil didapatkan, tetapi mungkin juga tidak berhasil didapatkan. Kemungkinan potensi ini berhasil didapatkan negara adalah melalui perbaikan peraturan pajak atau ketegasan pemerintah dalam menarik pajak kepada pengusaha. Lain lagi dalam impor, potensi baru bisa berhasil didapatkan jika pemerintah mampu melindungi produk dalam negri dari impor.
Tentu saja untuk menuju keberhasilan, kedua cara ini prosesnya bersifat lama. Jika demikian, sambil menunggu proses mendapatkan dana dari potensi itu, dari mana dana untuk program-program Prabowo? Bahkan potensi dana belum tentu berhasil didapatkan. Jika tidak berhasil didapatkan kemudian pertanyaannya, dari mana dana untuk program-program Prabowo?  

 Ikuti isi Maklumat Jokowi jika jadi Presiden disini.


Bertanya Pada Hati Nurani
Sejujurnya saya kecewa dengan isi surat Mbak Tasniem. Surat Mbak Tasniem menggelisahkan untuk bangsa ini. Karena Mbak Tasniem seakan lebih mengkhawatirkan Jakarta dipimpin Ahok daripada mengkhawatirkan 13 anak bangsa yang masih hilang di bawah komando Prabowo. Seakan sumpah jabatan Jokowi itu lebih berdosa daripada Prabowo melanggar sumpah prajuritnya. Seakan blusukan Jokowi itu perlu dicurigai daripada mencurigai koalisi gemuk dan koruptor pengemplang pajak di belakang Prabowo. Seakan jaman sekarang lebih butuh pemimpin yang ditakuti karena pernah melanggar HAM daripada pemimpin yang disegani dan dipuji bangsa lain. Seakan lebih tepat meremehkan kemampuan Jokowi yang terbukti sudah mampu memimpin 2 wilayah di Indonesia daripada meremehkan Prabowo yang belum pernah memimpin sipil dan jelas diberhentikan atasannya. Seakan lebih baik memaklumi masa lalu kelam 

Prabowo dan orang-orang lama bermasalah di belakangnya daripada memaklumi masa lalu Jokowi yang terbukti baik.
Kita tidak sedang bertaruh seperti suporter sepak bola dengan taruhan uang pribadi. Kita sedang menentukan masa depan bangsa, yang taruhannya anak-cucu kita nanti. Memang betul kita harus selalu bertanya pada hati nurani yang paling dalam untuk keputusan kita memilih pemimpin nanti. Maka Mbak Tasniem, mohon tanyakan pada diri sendiri, apakah benar Mbak Tasniem menulis surat itu dengan hati yang paling dalam?
Surat tulus dari mantan adik kelasmu yang dulu mengaggumimu, 


Jakarta, 30 Juni 2014, 

Dian Paramita 

PS: Surat ini tak perlu dibalas.



sumber :

http://www.dianparamita.com/blog/surat-terbuka-untuk-tasniem-fauzia